Kamis, 23 Agustus 2018

Lama gagal part 1

Lama Gagal, Baru Berhasil


..Part 1..

Kalau dilihat dari judul, akan banyak persepsi ya? Soalnya aku sendiri juga bingung. Hehe..
Tapi tenang aja, aku gak akan berlama-lama. Ini kisahku (eaaa)..

Aku terlahir dari keluarga sederhana, anak pertama dari dua bersaudara. Adikku lelaki, terpaut usia dua tahun. Kami dibesarkan oleh orangtua yang cukup tegas, bahkan di waktu tertentu mereka pun galak, namun meski begitu perhatian dan kasih sayang mereka selalu tercurah untuk kami berdua.
Sejak kecil kami dididik untuk bersikap berani bertahan jika memang kami dalam posisi yang benar, dan harus berani untuk minta maaf jika kami melakukan kesalahan. Kami harus menghargai orangtua, menyayangi yang lebih muda dan melindungi yang lemah. Yang terpenting bagi kedua orangtua kami adalah anak-anaknya harus ditanamkan sifat JUJUR, bahkan itu di atas nilai kedisiplinan kami.
Dari sanalah terbentuk karakter kami yang cukup keras, namun berhati lembut (lebih tepatnya, gak tegaan).
Sebagai anak pertama, seharusnya aku bisa menjadi contoh yang baik untuk adikku, tapi mungkin karena jarak usia yang tidak begitu jauh membuat egoku tinggi dan seringkali enggan untuk mengalah. Dengan ulahku yang demikian, sering membuat orangtuaku kesal, jengkel dan senewen. Bahkan pernah beberapa kali orangtuaku mendaratkan sapu dan cubitannya di kakiku (wadaaaooww). Mungkin itu mereka lakukan karena ingin membuatku jera agar tidak melakukan kesalahan lagi. Namun parahnya hal itu justru membuat aku semakin kebal dengan hukuman dan tingkahku semakin menjadi seperti anak lelaki a.k.a "tomboy" (memang kecilnya aku super duper deh, sampai bikin orangtuaku pusing seperempat mati.hihii).
Singkat cerita, aku tumbuh menjadi remaja abg yang manis (digulain tiap hari) namun masih tomboy. Saat aku SMA, orangtuaku sering bingung karena hampir setiap hari teman-temanku datang, dan masih saja gerombolan teman-teman cowok yang datang (gak beda jauh saat aku SMP. Kalo waktu SD jangan ditanya, parahh..)
Tapi keadaan itu berubah saat aku naik kelas dua SMA, dimana saat itu aku menjadi anak yang lebih banyak diam, namun kembali heboh saat aku kelas tiga SMA (tobatnya sebentar doank ya?hehe)
Dan akhirnya kala itu aku lulus SMA, aku sibuk mendaftarkan diri untuk masuk ke PTN dengan jalur nilai raport (red : PMDK) dan tes melalui online untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Alhamdulillah, setelah mengirimkan berkas-berkas ke beberapa PTN dan mengikuti ujian online, aku diterima di salah satu PTN Bandung di fakultas sastra dan Yogyakarta di fakultas ekonomi, serta salah satu universitas di Australia dengan program study manajemen bisnis. Rasa senang dan bahagia luar biasa bukan kepalang, terlebih itu hasil kerja kerasku sendiri yang ingin aku tunjukkan kepada orangtua sebagai hadiah, karena selama ini aku sadar, aku sering mengecewakan mereka.
Dan di satu hari aku menyampaikan kabar gembira ini, orangtuaku pun turut bahagia dan berbangga hati, karena mungkin agak sangsi bagi mereka aku bisa lulus di salah satu universitas di Australia. Namun, kebahagiaan itu tak lama aku rasakan. Bagaikan kertasa yang diremas-remas lalu disobek-sobek saat aku mendengar pendapat dari papaku. "Nanti kalau Mbak kuliah di luar kota gimana? Siapa yang mau ngawasin Mbak? Mama Papa jauh di sini. Apalagi kalau sampai kuliah di luar negeri, harus pake pesawat kalau kita mau nengokin Mbak. Udahlah, kuliah di sini aja, yang deket, jangan jauh-jauh. Toh kuliah dimana aja sama, tujuan akhirnya di wisuda, terus cari kerja". Aku terdiam meski hati ini mulai sesak. Mama pun melanjutkan, "yaudah, kalau gitu nanti Mama temenin Mbak cari kampus di sini yang deket, tapi bagus. Lagian berangkat sekolah yang deket & tinggal sama orangtua aja telat melulu, apalagi kalau nanti jauh, bakal telat terus ntar berangkat ke kampus, malah gak tau waktu nanti." Ya Allah, segitu parahnya ya aku di mata kedua orangtuaku. Tanpa mereka sadari, padahal itu adalah bentuk protesku karena selama ini aku selalu masuk sekolah sesuai keinginan mereka, tanpa mereka pedulikan keinginan aku. Dan aku memilih untuk kuliah di luar kota karena aku ingin mandiri, aku ingin tunjukkan pada mereka bahwa aku ini bisa menjadi anak yang bertanggungjawab dengan waktu. Namun sekali lagi, keputusan mereka tidak bisa diganggu gugat, sehingga aku pun akhirnya menuruti lagi kemauan mereka.
Aku tercengang, tatkala aku dimasukkan ke kampus kesehatan yang mahasiswanya 100% perempuan dan harus menggunakan seragam (padahal berharap banget bisa lepas dari yang namanya seragam sekolah. Gagal deh..)
Akhirnya setelah mengikuti beberapa kali tes tulis dan kesehatan, aku lulus dan mulai menjalani perkuliahan (dengan melewati masa ospek yang MENYEBALKAN).
Niat yang sudah ada jauh-jauh hari, bekal yang sudah aku persiapkan, serta perjuangan yang sudah aku lewati cukup panjang, akhirnya tak dapat aku jalani, gagal karena aku tidak dapat memilih yang sudah aku dapatkan. Justru pilihan yang mendadak dari mamaku inilah yang akhirnya harus aku jalani (dengan setengah hati, karena jujur tahun pertama kuliah, aku hampir kena DO karena absenku yang parah). Alhamdulillah, meski aku jalani di awal dengan payah, pada akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku dengan hasil yang cukup baik. Itupun tak luput dari pengorbanan orangtua dan keluarga besarku.

Note :
Dari sini aku belajar :
1. Kelak aku akan menjadi orangtua, tidaklah sepatutnya kita mendidik anak dengan kasar (keras dan tegas boleh, tapi jangan kasar serta main tangan).
2. Jangan memaksa kehendak anak dan tidak yakin pada kemampuannya, sebaiknya lihat potensi anak, bantu dan dukung mereka untuk menggali potensinya. Karena tidak selamanya pilihan orangtua selalu tepat untuk anaknya. Percayalah, orangtua yang memberikan kebebasan (bebas namun terbatas/bertanggungjawab) akan membuat si anak berpikir keras jika mereka ingin melakukan hal-hal yang tidak baik di belakang orangtuanya.
3. Betapa sayangnya orangtua terhadap anak-anaknya, meski kadang caranya kurang pas di mata anak, namun setelah aku dewasa dan menjadi orangtua, aku sadar bagaimana posisi orangtuaku saat itu. Bagi mereka, yang terpenting adalah bisa dekat untuk melihat perkembangan anak, karena masa-masa itu tak akan terulang lagi.

Introducing

Bismillahirahmaanirrahiim..
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh..
Salam kenal semuanyaaa..😊😊



Namaku Zeal Sickas, seorang ibu muda (#generasimenolaktua , hehe) dari dua orang anak yg tinggal di bagian barat pulau Jawa. Wilayah JaBoDeTaBek sih tepatnya :)
Ini postingan pertama aku di blog. Jadi harap maklum yaa pemirsa kalau masih terkesan kaku & acak-acakan. 😊🙏

Sebenernya dulu pernah punya blog, kira-kira 8 tahun yang lalu, udah beberapa kali posting juga. Tapiiiiii..sayangnya aku gak bisa log in lagi setelah beberapa waktu aku lama gak posting, lupa akun&password untuk log in (asli, lupa paraaaahhh), dan sok sibuk juga gak mau berusaha untuk searching cara pemulihan akun.

Well,, singkat cerita akhirnya kurang lebih 2 tahun yang lalu (lumayan lama juga yaa), aku berniat untuk punya blog lagi, dan niat pake banget untuk aktif di dunia blog, dengan alasan pengen nyalurin hobby aku yang dulu suka bikin cerpen dan cerbung. Alhamdulillah, setelah googling, ketemu deh blognya Pak/Mas Sugeng (silakan buka blog beliau di >> https://sugeng.id/ ) yang cukup membantu aku mewujudkan niat untuk posting di blog aku sendiri.

Nah, karena sekarang aku udah jadi seorang ibu dari dua orang anak, insyaa Allah nanti selain artikel tentang pengalaman aku, aku share juga tips-tips sederhana dalam perawatan si kecil. Untuk postingan yang aku dapat di luar pengalaman aku, insyaa Allah aku tulis darimana referensinya.

Yuk, join with my blog. Bisa juga lihat postingan aku di instagram yaa >> https://www.instagram.com/zealsickas_/ atau via app search aja @zealsickas_ ^.^
Kritik dan saran yang membangun aku tunggu di kolom komentar.